Pakan dari sampah

PAKAN RUMINANSIA DARI LIMBAH DAN “SAMPAH”

OLEH : Sentot bi *)

LATAR BELAKANG

Persoalan utama memelihara ternak ruminansia , khususnya pada pemeliharaan skala kecil, antara 1-10 ekor, adalah penyediaan pakan hijauan. Simak saja para peternak itu setiap hari disibukan dengan kegiatan merumput yang membutuhkan waktu tidak sedikit. Meskipun  telah memiliki lahan rumput sendiri, peternak tetap harus meluangkan waktunya untuk kegiatan itu. Terlebih lagi peternak yang tidak memiliki lahan rumput sendiri, waktu merumputnya lebih panjang. Jika musim kemarau, kegiatan merumput ini akan semakin membutuhkan waktu lebih panjang lagi, karena lokasi merumputnya akan lebih jauh.

Pakan ruminansia umumnya selalu diartikan dengan rumput segar.  Tak heran bila sebagian besar petani ternak ruminansia hanya mengandalkan rumput sebagai ransum ternaknya. Padahal tidaklah selalu demikian. Pakan hijaun bisa diperoleh dari daun jati, daun pisang, daun bambu,daun sukun, daun salak, jerami, sisa sayuran, yang sudah dianggap sampah dalam keadaan segar maupun sudah kering.  “Sampah “ itu  biasanya berakhir di pembuangan sampah atau dibakar, padahal, jika diolah dengan benar, “sampah “itu akan memiliki nutrisi yang cukup baik untuk pakan ternak ruminansia.

PAKAN DAN RANSUM

Pakan ternak adalah semua bahan organik yang dapat dimakan oleh ternak, memiliki nutrisi yang dibutuhkan,disukai ternak, dan tidak berbahaya ( Merkel, R.C dan Subandriyo, 1997). Sedangkan Siregar,S.B, (1994) lebih memperjelas bahwa ternak bukan hanya membutuhan pakan ternak, namun membutuhkan ransum, yakni satu atau beberapa jenis pakan yang diberikan untuk seekor ternak selama sehari semalam. Pakan atau ransum ternak dibagi menjadi pakan hijauan dan pakan konsentrat. Pakan hijauan  umumnya dipenuhi dari rumput dan leguminosa. Kebutuhan pakan hijauan biasanya dipenuhi dari rumput lapangan, rumput unggul, jerami padi, pucuk batang jagung, dan pucuk tebu, daun kacang tanah (rendeng) yang masih segar, kecuali jerami yang sering diberikan dalam bentuk kering.  Sedangkan leguminosa yang biasa dipakai adalah daun kacang tanah, daun ketela pohon dan kliriside. Daun turi, daun lamtoro, daun kaliandra, daun turi sebagian peternak Gunung Kidul yang telah biasa menggunakan sebagai pakan.

Konsentrat atau komboran hanya sebagian kecil peternak yang menggunakan sebagai ransum ternaknya. Sebagian besar peternak hanya menggunakan bekatul atau ampas ketela atau polard saja. Konsentrat hanya dikenal oleh peternak yang mengelola sapi miliknya sendiri. Sedangkan peternak yang hanya menggaduh, terlalu berat menggunakan konsentrat dalam ransum ternaknya karena alasan ekonomi.

Beberapa kajian di Wilayah DIY, hasilnya menunjukan sapi maupun ternak ruminasia yang lain mengalami mal nutrisi. Sebagian besar ternak betina yang sedang menyusui mengalami kekurusan, bahkan menderita demam tiga hari sebagai akibat kekurangan nutrisi.  Hal ini sangat dipengaruhi perlakuan pakan yang hanya mengandalkan rumput , sebagai ransum ternaknya.

MEMANFAATKAN “SAMPAH”

Selain rumput  dan limbah pertanian, sebagai penghasil serat kasar, daun-daunan dari tanaman pekarangan seperti : daun jati, daun pisang, daun bambu, daun kelapa, daun salak, daun ketewel, daun sukun dan daun buah-buahan yang biasanya hanya disapu dan dibakar, bisa digunakan sebagai pakan ruminansia karena memiliki nutrisi yang hampir sama. Selain itu, limbah rumah tangga ataupun limbah pasar seperti : sisa sayuran, kulit buah, daun pembungkus, dan sisa bahan organik lain  yang biasanya hanya dibuang sebagi sampah, adalah sumber bahan pakan potensial yang masih belum banyak dikelola. Seresah daun di pekarangan dalam bentuk basah maupun kering dan sampah pasar itu masih memiliki potensi nutrisi pakan yang cukup baik.  Anggorodi (1994) menyebutkan, bahwa setiap tumbuh-tumbuhan mengandung selulose lebih dari 50% dari berat keringnya. Selulose ini dapat diubah menjadi disakarida oleh bakteri yang terdapat pada rumen ruminansia, yang akhirnya menjadi glukosa, sumber energi pakan.  Artinya setiap tumbuhan merupakan potensi pakan bagi ternak ruminansia.

Meskipun bahan sampah itu memiliki potensi nutrisi pakan, namun memiliki kelemahan sebagai pakan, yakni tingkat palatabilitas (kesukaan) yang rendah akibat kekeringanya dan campuran dari berbagai bahan . Oleh karena itu, diperlukan perlakuan berupa pencampuran dengan pakan yang disukai ternak dan dilakukan fermentasi untuk mendapatkan palatabilitas dan sekaligus menghindari anti nutrisi yang ada.

Sampah pekarangan kering, harus digiling menjadi seresah yang lebih kecil, kemudian dicampur dengan bahan pakan konsentrat seperti : bekatul, polard, kleci, jagung, ampas tahu, kulit kacang tanah, janggel jagung, tetes, dll. Setelah dilakukan penghitungan yang baik, minimal memperoleh kadar protein 12 persen, dilakukan fermentasi menggunakan ragi atau bakteri fermentasi yang lain (bakteri ini dapat dibuat sendiri). Melalui fermentasi ini akan diperoleh rasa yang lebih baik. Iksan,S.B (2002) mensitasi dari Suliantari dan Rahayu (1990) menegaskan bahwa fermentasi menyebabkan terjadinya beberapa proses yang menguntungkan, antara lain mengawetkan, menghilangkan bau tak sedap, meningkatkan daya cerna dan flavor, disamping dapat menghilangkan zat anti nutrisi dan racun yang mungkin terkandung didalam bahan pakan mentah, seperti senyawa sianogenik glukosida linamarin dam ubi kayu.

Perlakuan yang sama harus diberikan pada sampah pasar atau sampah dapur. Semua bahan sampah dipilih agar tidak terikut bahan lain yang berbahaya bagi ternak, seperti plastik, kaleng, dll, kemudian dicuci dengan cara disiram atau disemprot dengan air bersih. Setelah ditimbang, dicampurkan bahan konsentrat  (bekatul, jagung, polard, ampas tahu, dll) sampai dengan hitungan menjadi pakan komplit (minimal protein 12 %) lalu difermentasi selama 3 hari. Agar tidak selalu membuat dan menyediakan pakan setiap hari, kita harus membuat pakan ini dalam jumlah yang dibutuhkan selama yang kita inginkan. Misalnya, kita akan membuat pakan setiap minggu sekali, maka kita membutuhkan jumlah kebutuhan pakan untuk seminggu sesuai dengan kebutuhan pakan dan jumlah ternak. Misalnya kita mempunyai kambing sebanyak 100 ekor dan ingin menyediakan pakan dalam seminggu. Pakan yang dibutuhkan sebanyak 100 x 4.3 kg x 7 hari = 3,01 ton. Dengan cara ini kita tidak perlu “ngarit” setiap hari, namun cukup seminggu sekali.

Pemberian jumlah ransum lebih tepat bila kita menghitung berdasarkan kebutuhanya. Misalnya, seekor domba dengan bobot 20 kg yang akan digemukan dengan pertambahan bobot 50 gr sehari, maka domba ini membutuhkan sekitar 74 gram protein. Berdasarkan perhitungan ransum Siregar, S.B (1994), domba tersebut harus mendapatkan pakan komplit dari sampah itu sebanyak 74/12 = 6 kg per hari. Agar tidak berlebihan dan tidak terkonsumsi, maka kadar protein pakan komplit ini harus ditingkatkan. Misalnya dengan kadar protein 17 persen. Maka kebutuhan per ekornya = 74/17=4.3 kg.

Contoh Ransum

Seekor domba/kambing betina dengan bobot badan 30 kg, sedang menghasilkan susu 1 kg. Kedbutuhan nutrisinya sebagai berikut :

Kebutuhan Protein (gr) TDN (gr) Ca (gr) P (gr)
Hidup Pokok 51 362 2 1.4

 

Ransum yang disediakan disusun sebagai berikut :

Bahan Pakan Jumlah Protein TDN
Sampah 3 36 231
Daun turi 1 29.6 72
Ampas Tahu 0.1 2.3 7.2
Jagung 0.15 1.35 13.5
Tp.Gaplek 0.4 0.72 31.2
Bekatul 0.12 1.908 80.4
Jumlah   71.878 362.94

 

 

 

PENUTUP

Memanfaatkan sampah pekarangan dan sampah  pasar/dapur sebagai pakan ternak memberikan peluang kepada kita untuk beternak ruminansia meskipun kita tidak memiliki lahan rumput. Bahkan dengan cara ini pula kita tidak  direpotkan dengan acara mengarit setiap hari meskipun ternak kita jumlahnya banyak. Melalui perhitungan contoh diatas, kita dapat memelihara 100 ekor domba/kambing  dengan bobot 20 kg dan pertamabahan bobot 50 gr dengan menyediakan pakan setiap minggu satu kali.  Jika sudah berjalan dengan baik, bahan pakan seperti sampah pekarangan atau sampah pasar dan dapur dapat kita peroleh dengan cara berlangganan. SELAMAT MENCOBA.

 

DAFTAR PUSTAKA

Annggorodi, 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum.PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Iksan, Sentot Burhanudin, 2002. Pengaruh Tingkat Substitusi Jagung dengan Onggok Fermentasi pada Ransum terhadap Pertambahan Bobot Badan dan Konversi Ayam Broiler. Skripsi. Universitas Semarang, Semarang.

Merkel, Roger C dan Subandriyo, 1994. Sheep and Goat Production Handbook for Southeast asia. CV Ekha Putra, Bogor.

Siregar,Sorri Basya, 1994. Ransum Ternak Ruminansia. Penebar Swadaya, Jakarta

*) Sentot Burhanudin Iksan,S.Pt. Penyuluh Pertanian Ahli di Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Sleman.